Disadur dan Diterjemahkan oleh Komunitas Klub Haus Buku
Psikologi pendidikan merupakan cabang dari psikologi yang befokuskan pada pengembangan teknik mengajar yang efektif dan penilaian kemajuan terhadap kecerdasan siswa. Suatu pandangan tentang pendidikan dewasa tidak akan lengkap tanpa memperhatikan teori-teori yang membentuk bagaimana cara kita belajar dan cara kita mengajar.
Sementara kita sadar bahwa ada banyak teori yang ditemukan dan sedikit para profesional teknologi dan bahkan lebih sedikit konsumen yang menyadari perbedaan antara teori-teori dan bagaimana mereka mempengaruhi cara kita belajar.
Kilasan tentang teori yang berbeda-beda ini memperkenalkan nama-nama prinsip, teori, dan implikasi dari masing-masing pendekatan. Penjelasan yang lengkap mengikuti kesimpulan. Dengan penjelasan ilmu pengetahuan ini, kita bisa menentukan teori yang mana yang cocok dengan kebutuhan kita dan yang mana yang harus diperhatikan ketika kita mengevaluasi program-program instruksional.
Psikologi Tingkah Laku :
Pernyataan bahwa perilaku dapat berubah sebagai hasil dari motivasi ekstrinsik seperti: insentif, hadiah, dan hukuman. Para ahli perilaku membela perilaku yang berpengaruh melalui penyelesaian yang sistematik dari pelaksanaan ransangan tanggapan.
Kebanyakan penelitian di lapangan berdasarkan pada karya BF. Skinner di awal tahun 1930. Ia meyimpulkan bahwa : dengan mengendalikan lingkungan tikus dalan sebuah labor ia dapat melatih mereka untuk bersikap secara konsisten. Dari penelitian ini munculah teori yang dirancang untuk melatih manusia.
Instruksi perilaku bergantung pada penggunaan sasaran yang terkendali; dapat diukur, dan dapat diamati : seorang guru (atau organisasi) menetapkan apa sasaran pelajaran akan diperoleh. Sasaran ini tercapai ketika pelajar memberi tanggapan dalam suatu cara tertentu berdasarkan pada rangsangan yang terkendali.
Psikologi Kognitif :
Menyatakan bahwa : informasi barangkali diperoleh, dipertanyakan, didapatkan kembali untuk penggunaan yang akan datang jika pelajar dibentuk, relevan, dan dibangun atas kehadiran ilmu pengetahuan.
Kognitif bertanggung jawab dengan kajian-kajian konsep pemahaman individu, kemampuan memecahkan masalah, dan kemampuan memberikan alasan. Program kognitif sering diorganisir dalam jumlah besar, dan telah dibangun dalam peralatan memori yang dibangkitkan oleh pelajar untuk membantu pelajar menyimpan dan menggunakan informasi di masa yang akan datang.
Model kognitif memberi pelajar suatu kendali yang memperkenalkan kerangka konsep, dan dengan mengandalkan pembelajaran yang berbasiskan pengalaman dan penemuan.[1]
Psikologi Konstruktif:
Menjelaskan bahwa pelajar tidak hanya menyerap dan menyimpan informasi kita membuat interpretasi sementara dari pengalaman dan terus menyesuaikan dan menguji apa yang kita tetapkan. Struktur mental kita dibentuk dan dijabarkan dan diuji sampai kita membangun suatu struktur yang memuaskan.
Para pembangun melaporkan bahwa : orang memjadi aktif dan tidak hanya menanggapi ransangan, kita terlibat, berjuang dan membaca sesuatu yang logis.
Psikologi Kemanusiaan :
Berfokuskan pada pertumbuhan dan perkembangan individu dan ia berasal dari suatu teori yang menyatakan bahwa; pembelajaran terjadi khususnya melalui refleksi dan pengamalan pribadi, dan sebagai hasil dari motivasi intrinsik. Ahli kemanusiaan menegakkan keyakinan andragogi bahwa; pembelajaran yang berarti membawa kepada suatu wawasan dan pemahaman tentang diri kita dan orang lain.
Agar perencanan instruksi bisa efektif, maka metoda harus cocok dan mendukung tujuan :
Setiap pendekatan menawarkan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Beberapa program secara sukses menggabungkan aspek-aspek dari model yang berbeda-beda. Instruksi harus menggunakan penelitian dan dilandaskan pada teori pendidikan yang sehat. Jika suatu program diciptakan tanpa suatu model instruksi,atau tidak mempedulikan teori pendidikan, maka kita menyerahkan pembelajaran pada kesempatan.
Psikologi pendidikan selalu mengalami perbedaan pendapat yang mendalam. meskipun tiap-tiap teori memiliki penelitian yang dalam, di belakangnya, hampir semua instruksi yang terorganisir telah didasarkan pada suatu model yaitu : aliran perilaku.
Untuk mengambil manfaat dari suatu pendekatan yang berguna, kita harus mengatasi bias yang kuat dan kepercayaan. Jika kita menerima bahwa cara kerja yang lama tidak lagi merupakan jawaban yang lengkap dalam zaman informasi, kita seharusnya memperbesar jumlah pendekatan yang kita gunakan untuk belajar. Kita harus terus bergerak dan berkembang.
Bagaimana mengikuti rangkaian kesatuan bagan aliran behavioral, neo-behavioral, [2] kognitif, kontruktivis, dan teori humanis pandangan belajar.
Secara ringkas aliran behavioral memandang pembelajaran sebagai respon mekanik; pengertian kognitif adalah tanpa tekanan otak pemikir dan dengan kerja humanis tanpa penekanan terhadap perubahan individul. Instruksi berakhir dengan rangkaian, dengan prinsip andragogi bila menguntungkan seperti bunga mawaryang keluar dari humanis.
Berikut ini adalah daftar bagan penelitian terkemuka dalam suatu wilayahdan sama dengan mengakhiri sebuah teori asosiasi [3]
|
Theory |
Behaviorism |
Neo-Behaviorism |
Cognitivism |
Constructivism |
Humanism |
|
Theorists |
Skinners Thorndike Watson |
Hebb Hull Bandura |
Piaget GagnA Bruner Ausubel |
Piaget Papert |
Rogers Maslow Knowles Vella |
|
Role of Intructor |
Behavior modeflier |
Source, model, and prompter |
Prompter disseminator of information |
Dialogue facilitator, prompter, challenger |
Facilitator, Coach, Listener, Partner |
|
Level of Structure |
High level |
High level |
Moderate level |
Low level |
Varying level depending on learner need |
|
Processing required |
Low conceptual levels |
Low conceptual levels |
Moderate conceptual level |
High conceptual levels |
High conceptual level |
Aliran perilaku :
Dongeng perumpamaan :
Seorang ilmuan, meletakkan seekor tikus di sebuah laboratorium dalam sebuah kotak dengan 6 kamar. Tikus tersebut kemudian mengetahui bahwa keju tersebut berada dalam kamar 3. Itu makanya ia selalu langsung bergerak menuju kamar 3 ketika ia ditempatkan dalam kotak tersebut. Tapi suatu kali, ketika ia memasuki kamar 3, ia tidak menemukan keju, lalu ia moncoba bergerak menuju kamar 4, dan juga tidak menemukan apa-apa, kemudian ia mencoba bergerak menuju kamar 5, nah! Ini dia!, akhirnya ia menemukan keju tersebut.
Tetapi bagaimana dengan manusia? biasanya ia akan tetap kembali bergerak manuju ruangan 3 dan kembali terus bergerak menuju ruang 3 akhirnya ia tidak mendapatkan keju tersebut. Sebab keju tersebut tetap terletak di ruangan 5.
Lalu, apa perbedaan antara manusia dan tikus? fakta diatas membuktikan bahwa tikus berhasil mendapatkan kejunya, bagaimana dengan manusia?
Perumpamaan di atas menggambarkan bahwa suatu masyarakat tergantung pada imbauan dan pujian luar sebagai metoda yang hidup untuk mengubah suatu perilaku. Meskipun organisasi kita membutuhkan keterampilan memproses informasi yang lebih maju, masalah perilaku telah begitu biasa sehingga ia atau kita tidak pernah mempertanyakan keabsyahannya dalam kehidupan kita. Dikarenakan ikatan ini, maka itu akan menjadi sesuatu yang naif untuk menegaskan bahwa kita seharusnya berhenti menggunakan instruksi perilaku semuanya.
Aliran perilaku mengusulkan bahwa :
Para guru memastikan pelajar untuk mendapatkan objektif pembelajaran yang dibatasi atau tegas, biasanya sesuatu yang bersifat spesifik sebagai suatu hasil yang bisa diamati dan menggambarkan perilaku.
Kegiatan belajar bersifat bertahap atau berentetan, sehingga pelajar bergerak melalui suatu rentetan operasi yang kompleks dan dirancang secara bertahap.
Kegiatan pendidikan dievaluasi sebagai sesuatu yang berhasil ketika objektif dari pembelajaran yang ditegaskan tadi tercapai. [4]
Banyak para pendidik tidak menyadari apa yang telah dikatakan B.F. skinner menjelang kematiannya tahun 1990, ”kesalahan yang paling terburuk yang telah dibuat oleh generasi saya adalah memperlakukan oarng lain seperti tikus”.
Fakta bahwa skinner, dirinya sendiri, menarik kembali dasar pemikirannya telah memiliki dampak yang kecil terhadap mereka yang bersikukuh dalam berpikir dan menganggap pikiran sebagai tabung yang harus diisi dengan fakta-fakta yang tidak terkait.[5] Aliran perilaku mendominasi pendidikan formal meskipun bukti nyata menunjukkan bahwa itu hanya akan melahirkan permasalahan jangka panjang dan hasilan jangka pendek yang sedikit.
Kapankah aliran perilaku telah tidak mendominasi kehidupan kita? Sebagian besar telah dibesrkan dalam keluarga yang menawarkan tanda-tanda untuk menyelesaikan tugas. Kita telah hidup terbiasa untuk mendaapatkan imbauan dari luar diri kita dan mengubah diri kita untuk mendapatkan agar lebih banyak lagi.
Sekolah-sekolah telah melaksanakan pendekatan ini misalnya dengan menawarkan peringkat, seperti : memberi nilai , bintang, dan perhatian yang berdasarkan pada cara kita bersikap.siswa yang pintar mengamati bahwa anak-anak yang bersifat baik diperlakukan secara lebih baik dari pada siswa yang tidak bersifat dengan baik. Sebagai orang dewasa, perusahaan membayar dan menyediakan bonus bagi mereka yang menggikuti aturan.
Terbenam dalam suatu aliran perilaku, kamu mungkin saja heran, apa permasalahannya? Banyak dari kita hanya merubah perilaku kita, dan menantang apa yang kita ketahui dan pikirkan, dan mencoba sesuatu yang baru ketika sesuatu yang lezat terletak di depan mata kita.
Jika kita tidak bersaing atau berkompetisi di pasaran, akankah bisnis menghidupkan kembali praktek kerja yang benar? Atau akankah kita menginginkan belajar jika ia akan menghasilkan uang atau hasil?
Sebagian besar dari kita tidak menanyakan diri kita kepada kita melakukan sesuatu dan apa yang ingin kita lakukan secara berbeda di masa yang akan datang. Kita terkubur pada hal-hal rutin pada tingkat proses yang amat rendah.
Lingkaran ini terus berlanjut karena kita belajar mengandalkan ‘drill’ (pengulangan) dan ‘praktek’. Suatu metoda perilaku yang mengajarkan fakta-fakta baru dan ‘responses’ (tanggapan). Lakukan sesuatu secara cukup dan ia akan menjadi bagian dari diri anda selama kehidupan anda. Kontrol apa yang kita praktekkan dan guru akan mengontrol apa yang kita pelajari.
Instruksi perilaku menawarkan sedikit kesempatan atau konteks untuk mengembangkan pemikiran yang merdeka. Para ahli perilaku belum membuktikan bahwa kondisi dan teknik respons berpindah pada situasi dan material lainnya.
Pendidikan dewasa sering mendayagunakan hal-hal ini meskipun adanya fakta-fakta. pengarang, seperti : Robert Mager, mempertahankan objektif perilaku yang memecah tugas menjadi sesuatu kepingan kecil dan dapat diukur. Bukunya dengan sangat menyolok mempengaruhi bidang teknologi instruksi meskipun fakta mereka dapat menginstruksikan para pendidik untuk mengukur segala sesuatunya secara sempit. Mereka mengajarkan perancang instruksi yang baru sebagai suatu pendakatan yang terbatas terhadap suatu perkembangan.
Dan itu bukanlah Mager mencoba untuk mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu yang salah, dan tanpa keahlian yang memadai dalam suatu rancangan instruksi, bagaimanapun, para pembaca barang kali tidak mengetahui kapan pendekatan seperti ini tidak seharusnya digunakan. Mereka juga barang kali tidak memiliki suatu pengertian yang luas tentang kebutuhan bisnis mereka yang berubah, untuk mengetahui kapan pendekatan ini berakhir yang akan menghambat pembelajaran. Sebagai hasilnya, mereka menggunakan metode ini dalam semua kurnya mereka.
Objektif perilaku : kadang-kadang dipandang sebagai objektif cara kerja, objektif pelajaran atau objektif akhir, yang memberitahukan pada pelajar apa yang akan diukur. Tipe objektif ini memantulkan keyakinan bahwa suatu waktu yang dikontrol dari luar dan yang telah ditetapkan dari awal, seorang pelajar akan mengatahui atau bisa untuk melakukan sesuatu yang baru. Waktu dan tempat sangat fital atau penting karena test objektif perilaku ini terletak pada kemampuannya untuk diukur.
Pengukuran bukanlah masalah. Setelah semuanya itu, siapakah yang belum memdengar istilah “apa yang diukur dapat diselesaikan” membatasi ilmu kerja dari suatu subjek sampai pada suatu jumlah tugas atau fakta yang terbatas, bagaimanapun, terlihat tidak terbimbing dalam banyak kasus.
Untuk memberikan ilusi tentang pengujian menjadi sesuatu yang berguna, objektif dapat menyatakan sesuatu seperti : “pelajar akan bisa untuk menentukan aksi yang benar yang harus dilakukan ketika hal seperti itu terjadi dan terjadi lagi. Pendekatan ini hanya berguna ketika pelajar terus melakukan tindakan spesifik itu.
Menggunakan objektif perilaku membuat departemen pelatihan untuk melaporkan bahwa mereka telah berhasil dalam memdidik. “kami berhasil! Katanya. “karyawanmu belajar sesuai, kami berguna! Namun depertemen hanya memperagakan bahwa ketika mereka menyediakan suatu perangsangan, karyawan.
Pendekatan perilaku terhadap rancangan instruksi dipusatkan pada guru. Seorang instruksi yang membuat keputusan secara pihak, tanpa memperhitungkan laba ruginya, berarti, bahwa : kelas tersebut bukan milik si pelajar orang biasanya tidak senang ketika segala sesuatu terjadi, jika mereka tidak dilibatkan.[6]
Pembelajaran yang autentik dan perubahan perilaku yang bertambah lama datang sebagai hasil dari penyesuaian terhadap lingkungan kita dan mengalami sesuatu yang baru. Untuk terus berkembang, kita harus fleksibel, dan dapat menyesuaikan diri jika diperlukan.
Apakah ini berarti bahwa “tidak ada tempat dalam bidang pendidikan dewasa untuk menggikuti aliran perilaku? Bukan begitu. Ada beberapa tugas yang membuat mereka harus melakukan ‘drill’ dan ‘praktek’ sebagaimana juga kondisi dan respons.
Stephen Brookfield, seorang ahli teori pendidikan dewasa yang terkemuka, menuliskan dalam karyanya yang berjudul “Facilitating Adults Learning” (Mempermudah pembelajaran dewasa), mengatakan : “Aliran perilaku paling menonjol dapat dilihat sangat jelas dalam konteks objektif. Dimana keberhasilannya dapat dinilai menurut kriteria suatu keberhasilan yang telah disepakati bersama”.
Dimana terdapat suatu ketidakseimbangan antara daerah keterampilan guru dan siswa. Contohnya, bagaimana mengajarkan penyuntikan dalam, belajar suatu program komputer, mempelajari prosedur akuntansi, belajar berenang atau belajar bagaimana mengoperasikan suatu mesin canggih. Meskipun tak satu pembelajaranpun yang tanpa unsur refleksi atau dimensi emosi, contoh-contoh ini semuanya terletak terutama sekali pada daerah pembelajaran instrument dan berorientasikan pada tugas. Dan daerah inilah, yang daerah inilah yang paling cocok dengan pendekatan perilaku.[8]
Ada beberapa contoh dalam bisnis dewasa ini, dimana sangat jelas objektif dan keberhasilan dapat disetujui secara bersama oleh pelajar, guru, organisasi, dan kandungan isi. Pada zaman informasi, peraturan membutuhkan suatu pendekatan yang berbeda.
Aliran Kognitif:
Teaching methods based on research in cognitive science are the educational equivalents of the polio vaccine and oenicillin. Yet, few outside the wducational research community are aware of these breakthroughs or understand the research that makes them possible. (Jonh T Bruer, The Mind’s Journey from Novice to Expert [9]
Psikologi kognitif adalah kajian tentang bagaimana otak/ pikiran kita bekerja, bagaimana kita berpikir, bagaimana kita mengingat dan akhirnya bagaimana kita belajar. Ada sesuatu yang lebih pada suatu pendidikan dari pada suatu kognition (kesadaran/pengertian), tetapi mempelajari apa yang terjadi pada otak dapat menggerakkan kemajuan, membantu kita dalam membuat keputusan dan meningkatkan program mendidik.
Arsitektur kognitif yang kita miliki semenjak kita lahir tetap sama tak peduli apapun bidang yang ingin kita kuasai. Pembelajaran tentang struktur dapat meningkatkan cara kita belajar. Implikasinya sangat mengejutkan untuk mempelajari teknologi yang berdasarkan bagaimana otak berhubungan atau berbuat dengan ide-ide.
Kajian dimulai tahun 1965 ketika para ahli psikologi, ahli bahasa dan ilmuan komputer bertemu di Institut Teknologi Massachusette untuk melakukan suatu simposium tentang informasi ilmu pengetahuan.[10] Pertemuan tiga hari tersebut mulai membicarakan tentang revolusi kognitif dalam psikologi. Suatu revolusi menggantikan psikologi perilaku dengan “Ilmu tentang pikiran”. Mereka bersikukuh mengatakan bahwa, pikiran manusia sama dengan komputer-teori penghitungan dapat membimbing suatu penelitian baik itu dalam psikologi ataupun dalam komputer.
“Sudut pandang dasar mendiami pekerjaan kita”, begitu yang ditulis oleh dua orang peserta, bahwa komputer telah diprogramkan dan merupakan pemecah masalah manusia, merupakan spesies yang termasuk kedalam genus yang sama. Keduanya merupakan spesies dari genus information processor (pemrosesan informasi).[11] Keduanya alat yang memproses simbol.[12]
Ahli kognitif menggambarkan pembelajaran sebagai bangunan dari skema dalam (struktur ilmu pengetahuan) dimodifikasi atau pengembangan dari skema yang ada. Skema kita secara konsisten berkembang melalui penggunaan. Pada saatnya, tindakan tertentu membutuhkan sedikit pemikiran atau tidak membutuhkan pemikiran sama sekali. Dimana tindakan menjadi sesuatu yang otomatis.[13]
Pendidikan tidak selalu membedakan antara apa yang seharusnya kita hapal dan apa yang harus kita pahami. Program tidak menjawab kebutuhan untuk strategi pembelajaran yang berbeda-beda.
Ahli kognitif memandang pembelajaran sebagai suatu proses yang berkembang. Kita menguji wawasan kita tentang dunia terhadap informasi baru sebelum kita membuatnya menjadi milik kita sendiri. Pengalaman sebelumnya, ilmu pengetahuan, dan harapan-harapan kita meruapakan kunci untuk suatu pembelajaran.
Kita membuat jembatan antara informasi baru dan dengan apa yang kita sama sekali telah ketahui. Program mendidik membantu kita untuk melakukan ini dengan menawarkan organisasi yang berarti dan konteks untuk menyimpan dan mengambil kembali informasi baru. Sebagai hasilnya, kita secara efektif mebangun terhadap apa yang kita ketahui.
Anak-anak meniru model ini secara intuisi ketika mereka belajar untuk berjalan. Mula-mula mereka belajar membalikkan badannya, kemudian ia duduk dan mencoba untuk menyeimbangkan badannya dengan menggunakan lengannya, kaki dan tungkai. Setelah ia menguasai keseimbangan, maka ia akan mulai lakukan langkah pertama, dan lalu terjatuh. Karena tidak puas, ia mencoba lagi secara perlahan terus berlanjut akhirnya ia bisa berjalan dan berlari.
Dalam model kognitif, pembelajaran dimulai dari proses pemula akhirnya menjadi tenaga pakar. [14] Mereka berbeda dalam pengertian, penyimpanan ilmu, dan menghimbaunya kembali dan akhirnya mengunakan ilmu pengetahuan untuk memecahkan masalah.[15] Para pemula dan para pakar memiliki cara yang berbeda dalam memecahkan suatu masalah. Juga berbeda dalam segi ilmu yang mereka miliki.
Para pemula memegang teori yang bersifat naif tentang bagaimana segala sesuatunya bekerja. Misalnya, orang yang baru belajar komputer mungkin ketakutan bahwa mereka akan merusak komputer tersbut. Orang dewasa yang amat terdidik beranggapan bahwa : Bulan terbuat dari keju. Teori ini tidak menggambarkan kecerdasan kaum pemula, tapi menggambarkan bahwa merreka kekurangan informasi dan pengalaman.
Karena ingin berbagi kebijaksanaan, para pakar boleh meninggalkan bagian-bagian penting dan situasi yang membawa mereka pada tahap pakar. Mereka menentukan perilaku bahwa pelajar seharusnya memiliki dan membayangkan kegiatan-kegiatan yang dapat memperkuat si pemula. Cara yang lebih baik untuk mengembangkan kurikulum berdasarkan pada penelitian kognitif akan dibangun dari : penuntasan dan kemudian membetulkan teori-teori naif tersebut dengan demikian pelajar dapat mengatasi keyakinan-keyakinan naif mereka.
Para pemula memandang individu tepecah-pecah. Sedangkan pakar memandang individu sebagai suatu bongkahan besar, dari informasi yang relevan. Bongkahan pakar yang lebih efektif dan kaya informasi memungkinkan mereka untuk memusatkan perhatiannya. Karena pakar yang kaya informasi ini memproses informasi secara lebih baik dalam jumlah waktu yang sama.[16]
Para pemula dan tenaga pakar belajar dengan mengubah struktur memori jangka panjang. Psikologi kognitif mengusulkan bahwa: Jika pendidikan membantu pemula menstrukturkan informasi baru mereka, maka mereka akan bisa menggunakan struktur sepanjang kehidupan dan ilmu pengetahuan tersebut. Tidak seperti kondisi dan tanggapan perilaku, antara struktur mental ini bahkan dapat menyesuaikan dan tumbuh. Kita memodifikasi struktur-struktur ini ketika kita berjumpa masalah-masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh aturan yang ada saat sekarang. Kita mengenal informasi-informasi yang kita butuhkan dan memprosesnya untuk membangun aturan yang terbaru dan lebih akurat.
Beberapa pelajar memodifikasi struktur mereka secara otomatis, sementara yang lainnya membutuhkan beberapa pertolongan. Pelajar yang tidak dapat memodifikasi kebutuhan mereka sendiri instruksi langsung tentang fakta yang relevan dan tentang strategi untuk digunakan. Dengan pendekatan yang benar, kita dapat maju dari suatu yang relatif naif melalui serentetan pemahaman yang terpisah-pisah sampai akhirnya ke sebuah penguasaan subjek dengan memahami fakta, strategi dan kapan untuk menggunakannya untuk masing-masingnya.
Di awal tahun 1980, peneliti mengamati bahwa; Sebagian orang mempelajari subjek-subjek baru dan memecahkan problem-problem baru secara lebih pakar dri pada pemula-pemula yang pintar, tanpa memandang banyak ilmu pengetahuan yang mereka miliki terhadap suatu topik. Orang-orang ini terlihat mampu mengontrol dan memonitor proses pikiran mereka. Ini berarti : ada sesuatu yang lebih pada cara kerja pakar dari pada keahlian dan ilmu pengetahuan yang topiknnya lebih spesifik.
Ahli psikologi kognitif menyebut elemen-elemen baru dari cara kerja expert ini sebagai : Metacognition.
Metacognition : didefinisikan sebagai suatu kemampuan untuk memikirkan tetang berpikir, agar kita betul-betul sadar dengan diri kita sendiri sebagai pemecah masalah, dan untuk memonitor dan mengontrol proses mental kita. Ketika kita berpikir. [17]
Ada beberapa kunci yang didapat pada metacognition (Meta Kognitif) : mereka melibatkan :
Kesadaran kita tentang perbedaan antara pemahaman dan penghapalan materi dan strategi mental apa yang harus digunakan pada waktu yang berbeda-beda.
Kemampuan kita untuk mengenal subjek-subjek yang sulit, dari mana kita harus memulainya, dan berapa banyak waktu yang dibutuhkan untuk itu.
Ketepatan kita untuk mengambil permasalahan yang ada, menyusunnya, dan mencoba untuk menyelesaikannya.
Mengetahui kapan kita tidak memahami, maka kita bisa mendapatkan bantuan dari pakarnya.
Mengetahui kapan penjelasan pakar kita menyelesaikan kendala dalam pembelajaran dengan segera.
Keahlian metakognitif, semuanya, melibatkan kesadaran pemecahan masalah dan kontrol. Kita dapat mempelajari keahlian matakognitif dengan bekerja melalui sebuah topik, tapi kemudian menerapkannya ketika mencoba untuk mempelajari topik yang kedua.
Penelitian ini menceritakan pada kita bahwa : Metakognitif barangkali keahlian pembelajaran yang paling penting seumur hidup. Menerapkannya ke dalam program pendidikan (dan menjadi kebiasaan dalam cara kita bekerja sehari-hari) sangat penting untuk pertumbuhan kita. Sementara keahlian dan ilmu pengetahuan dengan topik spesifik berguna untuk kepiawaian, program harus disadari bersifat metakognitif diberitahukan dan bersifat eksplisit.
Kita perlu menciptakan dan mempertahankan lingkungan pendidikan dimana pelajar dengan mulus mengembara dari pemula menjadi tenaga pakar dan belajar untuk menjadi pemula yang cerdas. Untuk melakukan itu kita harus berpikir secara berulang-ulang, atau sekurang-kurangnya mengevaluasi kebijakan pendidikan, praktek di kelas, dan standar pelatihan guru.
Diakui, kita tidak mengetahui segala sesuatunya tentang bagaimana pikiran bekerja, atau bagaimana cara yang terbaik untuk seseorang belajar atau bagaimana merancang program pelatihan yang terbaik. Di sisi lain, ilmu kognitif memperagakan pada kita strategi yang dapat kita terapkan untuk meningkatkan program kita dan masa depan kita.
Aliran Konstruktif
Teknologi terdepan seringkali sulit didefinisikan dan selalu berada dalam tahap pembentukan. Karena teknik yang di perlukan agar selalu dapat berada di depan jaman informasi tidak akan berobah secepat teknologi yang mendukung kita, cara kita mempelajari teknologi yang harus berobah.
Tom Peters menulis: “Kita harus melupakan keyakinan-keyakinan lama kita tentang pembelajaran agar bisa seirama dengan perubahan.[18] Kita harus :
Bekerja sama dengan yang lainnya.
Kita dapat mengambil data untuk suatu kebijaksanaan.
Mengartikulasikan apa yang kita yakini, dan kenapa kita meyakininya.
Bersedia untuk mengumpulkan informasi bila waktunya tiba untuk mengubah apa yang kita yakini.
Pendekatan Konstruktif
Bekerja dengan baik ketika kita mengoperasikannya dengan informasi yang berubah secara konstan. Jika pendidikan akan menjadi jiwa dari industri sistem informasi baru, maka kita harus belajar cara yang baik untuk mengurusi sesuatu yang tidak terstruktur, tak terdefinisi dan tak diketahui.
Bagaimanapun juga, diperingatkan, pendekatan konstruktif tidak meminjamkan diri mereka pada suatu pelatihan yang didasarkan pada komputer atau evaluasi dimana struktur adalah sesuatu…
Aliran konstruktif ditampilkan di sini untuk menawarkan ide-ide tentang apa yang akan dilakukan ketika menghadapi ketidakpastian dan bagaimana untuk menggunakan pendekatan yang berbeda pada waktuyang berbeda-beda.. Aliran konstruktif bekerja sangat baik ketika teknologi baru dan sangat kompleks, tidak ada waktu dan struktur yang dibentuk untuk membangun solusi media. Sangat sulit untuk menguji apa yang tak seorangpun ketahui. Model konstruktif berasal dari beberapa ahli teori kognitif di saat sekarang yang mulai mempertanyakan manfaat dari instruksi kognitif untuk informasi dan ilmu pengetahuan yang tidak diketahui. Mereka menerapkan cara yang berbeda-beda untuk melihat suatu pembelajaran dan pemahaman ilmu pengetahuan. Para konstruktif menegaskan bahwa : Ilmu pengetahuan adalah apa yang kita perbuat dari ilmu pengetahuan itu sendiri. Tanpa pikiran, tidak akan ada ilmu pengetahuan. Ini adalah suatu fungsi tertentu bagaimana kita menciptakan arti dari pengalaman kita.
Dikarenakan mentalitas “Thriving on Chaos” (Berkembang di atas kekacauan) di akhir tahun 1980 dan di awal 1990, aliran konstruktif mendapat perhatian yang meningkat dalam bidang pelatihan dan perancangan instruksi.[19] Para konstruktif menekankan penggunaan yang fleksibel dari ilmu yang telah ada sebelumnya dari pada penghimbauan skema yang telah dipaketkan sebelumnya.[20]
Sebagaimana definisi kata-kata merubah arti berdasarkan pada bagaimana kita mengerti konteks, maka juga ide-ide akan berkembang dengan penggunaan yang baru. Untuk alasan ini, maka sangat penting sekali bahwa pembelajaran konstruktif (banyak seperti pembelajaran kognitif) terjadi pada suasana-suasana yang realistis sehingga tugas pembelajaran dan tugas pembelajaran yang terseleksi harus relevan dengan pengalaman hidup pelajar. Untuk berhasil, berarti dan bertahan lama, pembelajaran harus melibatkan aksi, pemahaman konsep dan ilmu budaya yang dapat bekerja.[20]
Para konstruktif mendorong pelajar untuk membangun pengertian sendiri, berdasarkan pada kenyataan mereka, dan kemudian, memperkaya wawasan baru mereka. Meskipun perundingan sosial. Kita harus bicara dengan yang lainnya tentang apa yang kita telah pelajari untuk menemukan jika kita ketinggalan sesuatu.[22]
Dialog membantu kita menjelaskan terjemahan dari pemikiran kita. Sebagaimana kita membongkar teori-teori yang naif. Kita mulai melihat kegiatan-kegiatan kita dalam pencahayaan yang baru, yang menuntun kita terhadap pembelajaran dan pemberian kerangka ulang konsep pembelajaran.
Kandungan ini tidak dapat dijelaskan dari awal. Pelatihan yang berdasarkan pada komputer, misalnya tidak akan berhasil seperti yang kita kenal hari ini. Bahkan teknologi mengindek akan informasi dan kasus diakseskan ketika dibutuhkan dari tema pembelajaran.
Misalnya aliran konstruktif telah digunakan secara luas dalam pendidikan dokter, arsitek, pengacara, dan artis. Strategi dapat melibatkan :
Melibatkan para ahli atau expert.
Menampilkan wawasan yang miltipel dan menggunakan pembelajaran kerja sama untuk mengembangkan dan berbagi pandangan alternatif.
Negosiasi sosial seperti, debat dan diskusi dapat berlangsung.
Menggunakan contoh sebagai ilustrasi yang realistik.
Kesadaran reflektif.[23]
Teori ini membuktikan tantangan, jika tidak mungkin, ketika dilakukan secara individual. Ini adalah suatu model untuk dipikirkan sebagaimana banyak orang dalam organisasi perlu untuk menyelesaikan sesuatu yang tidak diketahui dan konsorsium mengumpulkan individu dari organisasi yang berbeda-beda yang menghadapi tantangan yang sama.
Aliran Kemanusiaan (Humanisme)
Zaman informasi menuntut tenaga kerja yang dapat mendidik dirinya sendiri yang mampu mengerjakan pekerjaannya dengan baik. Tantangan kita adalah untuk memotivasi pemikiran baru. Humanisme merupakan teori tentang pertumbuhan individu dan perkembangannya. Ini merupakan paradigma yang paling menonjol dari prakteknya di dalam literatur dewasa Amerika Utara dan pendidikan yang berkelanjutan.
Ditarik dari kerja ahli psikologi humanisme dan kajian andragogy, teori ini meliputi pengajaran dan pembelajaran asumsi yang sangat mempengaruhi bidangnya. Kegiatan humanis mempermudah pembelajaran yang bekerja sama dengan pendekatan/ penekanan yang kuat terhadap si pelajar dan instruktur dalam menegosiasikan objektif, metode, dan kriteria evaluasi.[24]
Humanisme dimulai dengan teori bahwa pembelajaran terjadi pertama kali dengan merefleksikan pengalaman pribadi. Peran instruksi tidak nampak ditempatkan dalam pikiran si pelajar, tapi untuk mengeluarkan pelajaran dari wawasan pelajar dan pengalaman –seperti mengeluarkan air dari sebuah perigi atau mata air.[25]
Kita dapat memperoleh wawasan baru menuju pengalaman yang berlaku jika kita punya kesempatan dan alat untuk melakukannya. Peran instruktur yang sesungguhnya adalah pembelajaran apa yang kita temukan dalam diri kita sendiri, dan bukan tentang apa-apa di mana kita diberi tahu dan juga tidak merupakan di mana hal-hal tersebut merupakan hasil bimbingan dari orang lain. Teknik ini, berakar pada metode Socrates dan keyakinan Plato bahwa semua ilmu pengetahuan tersebut melekat dan ada dalam diri kita. Kemudian, ia berkembang di bawah aturan kerja, Carl Roger, yaitu suatu terapi yang mencoba untuk mengarahkan diri kita sendiri.
Teknik tambahan termasuk :
Diskusi induktif.
Proyek-proyek individu/ kelompok
Devrifing session (membicarakan kembali tugas-tugas yang talah dikerjakan)
Action Plan (Rencana tindakan)
Penilaian diri
Visualisasi
Refleksi yang tertuntun.
Humanisme menekankan bahwa; kita harus merasa nyaman dengan lingkungan pembelajaran dan dengan topik. Cara kita merasakan tentang suatu program mempengaruhi komitmen kita untuk melakukannya. Jika kita merasa aman, merasa dihormati, merasa percaya diri, dan merasa punya harga diri, dan merasa didayagunakan, kita punya kemungkinan besar untuk membuat suatu usaha yang kuat. Tapi jika kita merasa terancam, cemas dan merasa bermusuhan, barangkali kita akan menantangnya.[26]
Instruktur melibatkan pelajar dalam membuat tahap perancangan untuk memastikan agar topik relevan dan patut. Program-program mengandalkan analisa sendiri, pembentukan tim, dan pembelajaran menggunakan alat-alat dan pendekatan yang bervariasi.
Pembelajaran yang berarti membawa pada suatu wawasan dan pengertian diri kita sendiri dan orang lain. Menjadi manusia yang lebih baik dianggap sebagai sasaran pembelajaran yang sah. Roger percaya bahwa, apa saja dapat diajarkan pada orang lain bersifat relatif. “inconsequential”. Tidak menimbulkan akibat atau resiko. Tapi, keinginan untuk belajar harus datang dari motivasi internal (hakikat) yang diciptakan oleh kebutuhan untuk pertumbuhan pribadi menemukan diri sendiri.
Humanisme memiliki sedikit struktur, dapat digunakan dengan tingkat kesempatan yang tinggi, terapkan evaluasi diri, dan menghargai perbedaan individu.
Sebagaimana kita bergerak dari perilaku kognitif dan kemanusiaan, fokusnya berubah dari pengajaran menuju pembelajaran strategi bergerak dari pemindahan yang pasif dari fakta-fakta yang ada dan intensitas bergerak menuju aplikasi ide-ide dan permasalahan.
Sementara, aliran-aliran kognitif, konstruktif, dan humanis masing-masing memandang pelajar sebagai peserta aktif, sedangkan aliran konstruktif, dan humanis memandang pelajar tidak hanya sebagai proses yang aktif. Mereka percaya bahwa pelajar harus menguraikan dan menginterpretasikan informasi.[27]
Sebagaimana kita mencatat lebih banyak pengalaman, kita terus maju dari rangkaian ilmu pengetahuan dari tingkatan yang rendah dan terus menuju tingkat yang tinggi dari :
Mampu untuk mengenal dan menerapkan aturan-aturan standar, fakta dan operasi.
Memperhitungkan dari aturan-aturan umum ini di mana permasalahan mungkin terjadi.
Mengembangkan dan menguji pengertian baru dan aksi ketika kategori yang dikenal dan cara-cara berpikir gagal (tindakan reflektif).[28]
Aliran perilaku secara efektif dapat mengkondisikan pelajar untuk melakukan hal-hal dalam cara-cara tertentu dan membiasakan kita dengan kandungan isi dari suatu profesi (mengenal/ pengetahuan apa). Aliran kognitif terbukti berguna dalam pengajaran teknik pemecahan masalah di mana fakta yang dinyatakan dan aturan berlaku pada situasi yang tidak familiar (terbiasa, memperhitungkan atau tahu tentang bagaimana sesuatu). Humanisme sangat cocok untuk membuat kita mengurusi dengan masalah apa saja yang menghalangi perjalanan kita (formulasi/ refleksi dalam suatu tindakan atau aksi).
Pendekatan instruksi yang cocok, harus didasarkan pada tingkat proses kognitif yang dibutuhkan. Tugas-tugas yang membutuhkan pemprosesan tingkat rendah (seperti pergaulan, diskriminasi dan penghafalan) sesuatu hal yang sering dicapai melalui aliran perilaku (humanisme) ini.
Strategi kognitif cocok dengan subjek yang membutuhkan proses yang lebih maju, klasifikasi, penentuan aturan, pengendalian prosedur, dan pemecahan masalah. Permasalahan yang menuntut tingkat pemprosesan yang tinggi sering dipelajari secara baik melalui strategi kemanusiaan. Pertanyaan yang harus diajukan bukan, “manakah teori yang terbaik ?” tapi sebaiknya, “teori mana yang paling efektif ?” untuk memperkuat penguasaan tugas-tugas spesifik oleh pelajar secara individu ?
Apa yang barangkali paling efektif ketika kita sebagai seorang pemula, atau ketika kita menghadapi bentuk-bentuk informasi yang kompleks untuk pertama kalinya, barangkali tidak efektif, efisien, atau bersifat merangsang bagi pelajar yang pada saat kita dapat mencampur strategi, sebuah fokus yang telah diperbaharui terhadap praktik-praktik humanis membantu kita berfungsi dengan baik ketika kondisi optimal tidak terjadi, ketika situasi tidak dapat diramalkan dan ketika kita perlu untuk berpikir sendiri. Lingkungan organik kita yang terus berkembang dan berubah dengan cepat, menuntut solusi-solusi yang berdasarkan pada penemuan, improvisasi, dialog, dan negosiasi.[29]
Catatan Kaki
[1] Discussion Paper Series. Instructional principles for adult learning. Bedfort, MA: National Education Training Group – Spectrum.
[2] Neo – behaviorism is defined and explained in Appendix B.
[3] Adapted from S. S Dubin and M. Okun (1973). Implications of learning theories for adult instruction. Adult Education, 24 (1). p. 8.
[4] Stephen D. Brookfield (1989). Facilitating adult learning. In Sharan B. Merriam and P. M. Cunningham (Eds), Handbook of adult and continuing education. San Fransisco: Jossey-Bass.
[5] David Thornburg (1994, September). Killing the fatted calf: Skinner recanted behaviorism. Why can’t education? Electronic Learning, p. 24.
[6] Alfie Kohn (1993). Punished by rewards: The trouble with gold stars, incentive plans, A’s, praise, and other bribes. Boston: Houghton Mifflin.
[7] Thornburg (1994)
[8] Brookfield (1989)
[9] John T. Bruer (1993, Summer). The mind’s journey from novice to expert. American Educator, p. 7.
[10] Howard Gardner (1985). The mind’s new science: History of the cognitive revolution. New York: Basic Books.
[11] Allen Newell and Herbert Simon (1972). Human problem solving. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall.
[12] Bruer (1993)
[13] Rob Forshay (1991, May). Sharpen up your schemata. Data Training, p. 20.
[14] Bruer (1993)
[15] An expert is defined as someone highly skilled or knowledgeable in a given topic.
[16] Newell and Simon (1972).
[17] A. L. Brown, J. D. Bransford, R. A. Ferrara, and J. C. Camione (1983). Learning, remembering, and understanding. In P. H. Mussen (Ed), Handbook of child psychology, vol. 3, Cognitive development. New York: Willey.
[18] Tom Peters (1994). The Tom Peters seminar: Crazy times call for crazy organizations. New York: Vintage Books.
[19] Tom Peters (1987). Thriving on chaos: Handbook for a management revolution. New York: Harper and Row.
[20] R. J. Spiro, P. J. Feltovich, M. J. Jacobson, and R. I. Coulson (1991). Cognitive flexibility, constructivism, and hypertext: Random access instruction for advanced knowledge acquisitision in ill-structured domains. Educational Technology, 31 (9), pp. 24-33.
[21] J. S. Brown, A. Collins, and P. Duguid (1989). Situated cognition and the culture of learning. Educational Research, 18 (1). Pp. 32-42
[22] D. H. Jonassen (1991). Evaluating constructivist learning. Educational Technology, 31 (9). Pp. 28-33.
[23] Peggy A. Ertmer and Timothy J. Newby (1993). Behaviorism, cognitivism, constructivism: Comparing critical features from an instructional design perspective. Performance Improvement Quarterly, 6 (4), pp. 50-72.
[24] Brookfield (1989). p. 203.
[25] Tom Kramlinger and Tom Huberty (1990, December). Behaviorism versus humanism. Training and Development Journal, pp. 41-45.
[26] Richard Brostrom (1979). Training styles inventory. In J. E. Jones and J. W. Pfeiffer (Eds). 1979 Annual handbook for group facilitators. San Diego, CA: Pfeiffer.
[27] T. M. Duffy and D. Jonassen (1993, May). Constructivism: New implications for instructional technology? Educational Technology, 31 (5), pp. 13-17.
[28] Donald A. Schan (1987). Educating the reflective practitioner. San Fransisco: Jossey-Bass.
[29] Ertmer and Newby (1993).